Tuesday, June 16, 2009

KAU, SI BURUNG, DAN BELALANG

Oleh: rYoDiMaS


kepada: si mata berkilau pelangi


Malam tadi aku mimpi kau, singgah

di hatiku dalam perjalananmu ke pulau

dewa. Tangan kananku dan tangan kirimu

seolah satu tak kulepas hingga pukul tujuh:

aku terbangun.


Gadis pesolek duduk di samping ranjangku

terbungkus surat melalui banyak sinyal yang

nyangkut di tujuh menara. Dia cerita tadi

malam tidak bisa tidur, sibuk memikirkan

bagaimana bisa lepas dari sangkar. Dia adalah

si burung haDiah malam.


Aku sungguh tak ingin berpisah dengan kau.

Kupejamkan mataku lagi dengan harap kau

masih ada di halaman pertama, menunggu

dalam basah hujan sambil tetap kau pakai

mata kilau palsumu. Tak mengapa, kau lebih

terlihat nyata di kilau mata asliku.


Si burung kembali mengganggu. Kali ini dia

berceloteh tentang sayapnya yang tak bisa

berenang. Lantas dia bermaksud meminjam

sayapku untuk dipakai berenang di air mata.

Kupinjamkan saja. Aku tak tahan dengan

kicaunya yang kadang indah walau lebih sering

terdengar parah, buat kupingku merah.


Tepat sehabis berenang, Si burung kembali

bertengger di tepi ranjangku, sambil berciut.

Ketika kutanya kenapa, dia hanya menjawab

nyalinya sedang ciut. Takut sama belalang si

raja Totok. Dia selalu tak bisa bergerak ketika

ada si belalang. Bukan kendaraan ksatria.


Aku kembali teringat kau. Kucari di kolong

ranjang, di lemari baju kotor, dan di langit-langit

balkon; kau tak juga muncul. Akhirnya aku pun

menyerah, kembali ke ranjang -kali ini tak ada si

burung- sambil membaca petunjuk langit. Aku ragu.

Aku gelisah. Aku tak sabar. Segera saja kubentangkan

sayap ingin kujemput kau di langit.


Benar saja. Kau ada di sana. Hanya empat kata. Empat

kata yang membuat aku jatuh ke perut bumi yang paling

dalam. Empat kata yang membuat sayapku tak bisa

kukepak: AKU TAK INGIN PULANG.

Kau, si mata berkilau pelangi.


Jember, 30 Oktober 2008


No comments:

Post a Comment

Blog Widget by LinkWithin