Thursday, June 25, 2009

Offline vs Online

Semalam saya berdebat (atau lebih tepatnya berdiskusi dengan salah seorang teman tentang bisnis. Kebetulan kamu berdua sama-sama mahasiswa Administrasi Bisnis (Niaga) pada salah satu perguruan tinggi negeri di jawa timur. Bedanya, teman saya yang ini telah diberikan kesempatan untuk bekerja terlebih dahulu, sementara saya baru besok akan sidang skripsi ;-). Isi pembicaraan kami ini terutama tentang bisnis offline vs bisnis online. Teman saya tersebut bersikukuh bahwa dunia online tidak begitu menjanjikan sedangkan dunia offline adalah dunia yang seharusnya digarap lebih serius.

Teman saya tersebut mengatakan bahwa bisnis online hanyalah pelengkap bisnis offline yang sebelumnya telah settled. Teman saya tersebut berpendapat bahwa sebagian besar perusahaan yang sukses membangun usaha secara riil baru kemudian membuat web untuk sebagai sarana Public Relations . Sebatas itu. Tak ada gunanya menggarap web saat sebuah bisnis belum terbentuk. Sebaliknya, saya berpendapat bahwa dunia online semakin lama semakin mudah untuk di akses. Sarana internet sudah banyak yang sudah menjangkau daerah-daerah terpencil. Jikalau penetrasi internet sudah masuk ke daerah pelosok maka bukan tidak mungkin, media online bukan lagi menjadi sarana pelengkap bisnis offline tetapi menjadi bisnis inti perusahaan.

Saya yang semula ingin membuat distro online dengan teman saya tersebut akhirnya mencoba untuk berpikir kembali. Omongan teman saya tersebut ada benarnya. Tapi saya yakin, dengan bisnis online saya akan mendapatkan peluang yang lebih besar. Contoh kasus untuk bisnis distro kaos tadi, jika ingin membuat secara riil maka berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu toko? Bisa sampai puluhan juta. Tetapi bagaimana jika kita membuat distro secara online? Modalnya tentu lebih kecil, mengingat kita hanya perlu membuat katalog design kaos yang akan kita produksi lalu hanya akan memproduksi kaos jika ada ada pesanan yang masuk. Istilahnya by order production. Berapa banyak yang bisa kita hemat untuk biaya riset dan biaya produksi? Tidak perlu lagi ada produk yang ada di display tetapi belum laku juga dalam waktu lama karena tidak ada yang memesan. Sehingga barang tersebut akhirnya dijual murah, bahkan untuk menutup biaya produksi pun tidak cukup. Sebaliknya, jika kita menggunakan katalog online dan memproduksi by request, kita hanya akan memproduksi apa yang konsumen mau.

Keuntungan bisnis online selanjutnya adalah daya jangkau. Bayangkan jika kita ingin menjangkau pasar luar negeri dengan cara offline. Berapa banyak lagi biaya yang harus kita keluarkan? Coba bandingkan dengan jika kita menggunakan cara-cara online. Dengan hanya mengganti bahasa web menjadi bahasa inggris, kita sudah bisa menikmati pasar internasional tanpa harus diperumit dengan biaya ini-itu, ijin ini-itu, dan sebagainya. Apalagi saat ini sudah banyak dukungan alat pembayaran online seperti paypal dan alertpay yang sangat memudahkan transaksi online. Dan kita tak perlu terlalu khawatir dengan keamanannya karena sarana ini sudah diakui oleh para pelaku bisnis online. Walaupun masih ada celah keamanan yang dapat ditembus oleh para cracker, namun dukungan teknis dari programmer professional pada situs-situs / alat pembayaran online mampu mengatasi masalah ini. Terlebih lagi untuk ekspedisi sekarang telah banyak pemain yang bergabung untuk menggarap pengiriman internasional, seperti Fed-Ex dan sejenisnya, yang pada akhirnya akan memudahkan kita sebagai konsumen.

Di samping keuntungan bisnis online yang telah saya jabarkan secara singkat di atas, kita tidak boleh melupakan potensi pendapatan dari situs pendulang dolar seperti Google-Adsense, Adbrite, dan Text-Link-Ads. Kita bisa terus mendapatkan pendapatan dari bisnis inti sambil terus mengalirkan uang ke rekening kita melalui pengunjung yang datang ke web atau blog kita.

Lantas Apakah selamanya bisnis online hanya menjadi pelengkap bisnis offline?

sumber gambar / picture source : klik di sini / click here



No comments:

Post a Comment

Blog Widget by LinkWithin